Oleh : Ahmad Riyadi Umar
Bojonegoro, Jawa Timur.
Saya prihatin atas musnahnya hutan yang ada di negeri ini akibat penebangan liar. Di musim hujan terjadi bencana alam, dimusim kemarau terjadi kekeringan. Sebenarnya itu dapat dihindari jika kita peduli terhadap hutan atau pohon-pohon yang ada disekitar kita dan memuliakan air.
Bencala alam yang terjadi di Negeri ini bisa jadi peringatan bagi kita semua agar kita peduli dan memperhatikan alam. Banyaknya pembalakan hutan liat mengakibatkan tanah longsong. Hal itu karena air hujan yang turun tidak diserap oleh Hutan kita, sehingga menjadi tanah longsor.
Tanpa air hidup kita tidak akan bertahan lama, untuk itu mari kita muliakan air sebagaimana kita memuliakan diri kita sendiri. Air hujan yang turun harus mendapatkan tempat yang menjadi haknya.
Mari kita tanam pohon-pohon yang dapat menyerap air hujan, agar kita tidak kekurangan air. Kalau air hujan diserap pohon, maka tempat tinggal kita akan terhindar dari banjir dan bencana alam. (Surat Pembaca dimuat di Harian Jawa Pos, Rabu, 28 Maret 2007)
Monday, April 2, 2007
Air Akan Menjadi Barang Mewah
Oleh : Thomas Sutasman
Cilacap. Jawa Tengah.
Sedari sekarang kita sudah mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Apalagi musim kemarau. Tanpa kita sadari, air lama kelamaan akan menjadi barang yang sangat mewah. Maksudnya, kita akan kesulitan untuk mendapatkannya karena barangnya yang langka atau harga yang mahal.
Tanda-tanda bahwa air akan menjadi barang yang mewah mulai kita rasakan. Pertama, hilangnya resapan air tanah di daerah penyangga karena banyaknya penebangan pohon yang membabi buta. Ditambah lagi dengan penciutan situ-situ yang berfungsi sebagai penampung air karena digunakan untuk pemukiman.
Kedua, pencemaran air yang semakin lama tidak tertangani secara serius. Polutan yang ada tentunya menjadi penyebab utama air tidak sehat untuk dikonsumsi. Ketiga, swastanisasi air. Air yang menguasai hajat hidup orang banyak hanya akan dikuasai oleh kelompok tertentu yang bisa memainkan pengelolaan air. Setiap orang berhak atas air. Dengan swastanisasi, setiap orang tidak diakui berhak atas layanan air.
Akhirnya, permainan harga oleh pengelola akan sangat mengancam kesejahteraan konsumen.
Jelaslah bahwa setiap warga negara sangat membutuhkan layanan air yang prima. Pengaturan pengelolaan air yang baik oleh pemerintah sangat diharapkan, baik dari undang-undang pengelolaan air, implementasinya, keadilan, dan pemanfaatannya. Apabila swastanisasi air terjadi, maka hal ini merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam mengelola kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Selain itu, diperparah juga oleh rendahnya kesadaran masyarakat kita untuk menjaga siklus mata rantai air dan kepedulian terpenuhinya air bagi masa depan. Untuk itu, mulai sekarang pengelolaan air perlu dibenahi. Jangan sampai air hanya menjadi bencana saja, namun dapat juga menjadi suatu rahmat.
Cilacap. Jawa Tengah.
Sedari sekarang kita sudah mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Apalagi musim kemarau. Tanpa kita sadari, air lama kelamaan akan menjadi barang yang sangat mewah. Maksudnya, kita akan kesulitan untuk mendapatkannya karena barangnya yang langka atau harga yang mahal.
Tanda-tanda bahwa air akan menjadi barang yang mewah mulai kita rasakan. Pertama, hilangnya resapan air tanah di daerah penyangga karena banyaknya penebangan pohon yang membabi buta. Ditambah lagi dengan penciutan situ-situ yang berfungsi sebagai penampung air karena digunakan untuk pemukiman.
Kedua, pencemaran air yang semakin lama tidak tertangani secara serius. Polutan yang ada tentunya menjadi penyebab utama air tidak sehat untuk dikonsumsi. Ketiga, swastanisasi air. Air yang menguasai hajat hidup orang banyak hanya akan dikuasai oleh kelompok tertentu yang bisa memainkan pengelolaan air. Setiap orang berhak atas air. Dengan swastanisasi, setiap orang tidak diakui berhak atas layanan air.
Akhirnya, permainan harga oleh pengelola akan sangat mengancam kesejahteraan konsumen.
Jelaslah bahwa setiap warga negara sangat membutuhkan layanan air yang prima. Pengaturan pengelolaan air yang baik oleh pemerintah sangat diharapkan, baik dari undang-undang pengelolaan air, implementasinya, keadilan, dan pemanfaatannya. Apabila swastanisasi air terjadi, maka hal ini merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam mengelola kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Selain itu, diperparah juga oleh rendahnya kesadaran masyarakat kita untuk menjaga siklus mata rantai air dan kepedulian terpenuhinya air bagi masa depan. Untuk itu, mulai sekarang pengelolaan air perlu dibenahi. Jangan sampai air hanya menjadi bencana saja, namun dapat juga menjadi suatu rahmat.
Air Tidak Lagi Seperti Cahaya Matahari
Oleh : Muhammad Iqbal
Darmaga, Bogor.
Ketika SMP dulu, penulis diajari tentang Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di dunia ini. Secara garis besar, SDA dibagi dua, yaitu SDA yang terbatas dan tidak terbatas. Contoh SDA terbatas adalah bahan-bahan tambang, seperti batu bara dan minyak bumi, sedangkan contoh SDA tidak terbatas adalah udara, air, dan cahaya matahari.
Mungkin, dulu manusia benar-benar mudah mendapatkan air bersih tanpa perlu memikirkan tata cara regulasinya karena alam masih sanggup menetralisir air kotor dengan siklus air alami. Maka dari itu, manusia zaman dulu mengatakan air sebagai SDA tidak terbatas. Bahkan, pengusaha-pengusaha zaman dulu yang menggunakan air sebagai bahan baku menganggarkan biaya untuk mendapatkan air sebesar Rp 0,-.
Saat ini, jumlah manusia jauh lebih banyak dari zaman dulu ketika air masih menjadi SDA tidak terbatas. Volume air memang tidak berkurang, tapi kecepatan regulasi air dari air kotor menjadi air bersih lebih lambat daripada kecepatan regulasi air bersih menjadi air kotor. Gejala ini akan menimbulkan efek kurangnya pasokan air bersih jika dibiarkan terus.
Sudah waktunya untuk merombak pola pikir kita yang masih beranggapan bahwa air masuk ke dalam golongan SDA tidak terbatas. Air tidak lagi seperti cahaya matahari yang masih bebas digunakan tanpa perlu meregulasinya. Para pengusaha yang hidup di zaman ini harus berpikir selayaknya pengusaha zaman ini yang tidak lagi menganggarkan Rp 0,- untuk mendapatkan air, tapi biaya untuk meregulasi air tersebut juga diperhitungkan.
Jika kecepatan pembentukan air bersih dan kotor kembali stabil, semua pihak akan senang, bukan?
Darmaga, Bogor.
Ketika SMP dulu, penulis diajari tentang Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di dunia ini. Secara garis besar, SDA dibagi dua, yaitu SDA yang terbatas dan tidak terbatas. Contoh SDA terbatas adalah bahan-bahan tambang, seperti batu bara dan minyak bumi, sedangkan contoh SDA tidak terbatas adalah udara, air, dan cahaya matahari.
Mungkin, dulu manusia benar-benar mudah mendapatkan air bersih tanpa perlu memikirkan tata cara regulasinya karena alam masih sanggup menetralisir air kotor dengan siklus air alami. Maka dari itu, manusia zaman dulu mengatakan air sebagai SDA tidak terbatas. Bahkan, pengusaha-pengusaha zaman dulu yang menggunakan air sebagai bahan baku menganggarkan biaya untuk mendapatkan air sebesar Rp 0,-.
Saat ini, jumlah manusia jauh lebih banyak dari zaman dulu ketika air masih menjadi SDA tidak terbatas. Volume air memang tidak berkurang, tapi kecepatan regulasi air dari air kotor menjadi air bersih lebih lambat daripada kecepatan regulasi air bersih menjadi air kotor. Gejala ini akan menimbulkan efek kurangnya pasokan air bersih jika dibiarkan terus.
Sudah waktunya untuk merombak pola pikir kita yang masih beranggapan bahwa air masuk ke dalam golongan SDA tidak terbatas. Air tidak lagi seperti cahaya matahari yang masih bebas digunakan tanpa perlu meregulasinya. Para pengusaha yang hidup di zaman ini harus berpikir selayaknya pengusaha zaman ini yang tidak lagi menganggarkan Rp 0,- untuk mendapatkan air, tapi biaya untuk meregulasi air tersebut juga diperhitungkan.
Jika kecepatan pembentukan air bersih dan kotor kembali stabil, semua pihak akan senang, bukan?
Membudayakan Kepedulian Terhadap Lingkungan Hidup
Oleh : Moh Erfan,
Ciputat, Tangerang.
Sering kita mendengar ungkapan bahwa “alam sudah marah” atau “alam sudah tidak berasahabat lagi” dari sebagian masyarakat. Serentetan musibah bencana alam seperti banjir, longsor, dsb merupakan akibat dari gejala alam tersebut yang tak sedikit menelan korban.
Hal ini merupakan faktor dari ulah prilaku manusia yang tidak manusiawi. Prilaku penebangan pohon secara liar menyebabkan air kehilangan tempat menyimpan diri sehingga berbagai bancana alam terjadi sekaligus ketersediaan air mulai berkurang. Tindakan seperti itu telah membunuh beribu-ribu masa depan anak bangsa serta menghancurkan tatanan ekosistem yang telah teratur.
Lingkungan hidup merupakan bagian dari alam yang tetap harus dijaga dan dilestarikan. Dengan demikian, kita telah menanam investasi besar bagi generasi kita untuk masa-masa yang akan datang. Sebab kita dituntut selalu memberikan yang terbaik bagi masa depan mereka dan tentu tidak menginginkan nasib yang telah menimpa kita harus diwariskan kepada anak cucu kita kelak.
Dengan cara pelestarian lingkungan hidup yang berkesinambungan, maka keseimbangan serta ketersediaan air untuk kehidupan dapat terjaga. sehingga alam mulai akrab dengan kita. Hal ini Tentu harus dimulai dari dari kita sendiri, kalau tidak Sekarang, kapan lagi?.
Perlu Pengelolaan Air Yang efektif, dan
berorentasi masa depan
Air merupakan faktor penting dalam kehidupan. Siapapun dan dimanapun masing-masing individu secara umum sangat membutuhkannya. Namun, masih terdapat unsur penguasaan atau privatisasi sumber-sumber air oleh lembaga tertentu yang sangat merugikan sebagian pihak dimana masyarakat sebagai korbannya.
Akhir-akhir ini, masyarakat petani mengalami keresahan karena “kelangkaan” air yang selama ini diyakini sebagai sumber kehidupan. Seperti di Jawa Tengah, lahan sawah banyak mengalami kekeringan karena kesulitan mendapatkan air, yang disebabkan sistem pengelolaan sumber-sumber air yang tidak merakyat.
Kemudian, dalam kepahitan hidup yang tengah dirasakan masyarakat saat ini, di sector air PAM sebagai lembaga pengelola air bersih juga diwarnai adanya privatisasi dengan business oriented, profit oriented sebagai landasan pengelolaannya. Adanya pencemaran air akibat pembuangan limbah pabrik, turut meresahkan masyarakat.
masalah air merupakan masalah yang menyangkut hajat hidup masyarakat, bangsa dan negara. Pengelolaan dan pengembangan sumber air yang berwawasan kebangsaan, sangat mempengaruhi masa depan bangsa. Bayangkan jika petani tidak mendapatkan air untuk kebutuhan pengairan, mereka akan gagal panen, kesejahterannya terancam dan bayangan hari esok yang lebih baik berganti penderitaan yang mendalam, atau air bersih untuk dikonsumsi, tubuh akan lemah bahkan jatuh sakit karena kekurangan cairan untuk proses pembakaran dalam tubuh. Maka aktifitas, kreatifitas akan berhenti sampai disitu. maka, perlu mereformasi manajemen pengelolaan sumber-sumber air yang didasarkan atas semangat demokrasi, demi tercapainya pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya.
Ciputat, Tangerang.
Sering kita mendengar ungkapan bahwa “alam sudah marah” atau “alam sudah tidak berasahabat lagi” dari sebagian masyarakat. Serentetan musibah bencana alam seperti banjir, longsor, dsb merupakan akibat dari gejala alam tersebut yang tak sedikit menelan korban.
Hal ini merupakan faktor dari ulah prilaku manusia yang tidak manusiawi. Prilaku penebangan pohon secara liar menyebabkan air kehilangan tempat menyimpan diri sehingga berbagai bancana alam terjadi sekaligus ketersediaan air mulai berkurang. Tindakan seperti itu telah membunuh beribu-ribu masa depan anak bangsa serta menghancurkan tatanan ekosistem yang telah teratur.
Lingkungan hidup merupakan bagian dari alam yang tetap harus dijaga dan dilestarikan. Dengan demikian, kita telah menanam investasi besar bagi generasi kita untuk masa-masa yang akan datang. Sebab kita dituntut selalu memberikan yang terbaik bagi masa depan mereka dan tentu tidak menginginkan nasib yang telah menimpa kita harus diwariskan kepada anak cucu kita kelak.
Dengan cara pelestarian lingkungan hidup yang berkesinambungan, maka keseimbangan serta ketersediaan air untuk kehidupan dapat terjaga. sehingga alam mulai akrab dengan kita. Hal ini Tentu harus dimulai dari dari kita sendiri, kalau tidak Sekarang, kapan lagi?.
Perlu Pengelolaan Air Yang efektif, dan
berorentasi masa depan
Air merupakan faktor penting dalam kehidupan. Siapapun dan dimanapun masing-masing individu secara umum sangat membutuhkannya. Namun, masih terdapat unsur penguasaan atau privatisasi sumber-sumber air oleh lembaga tertentu yang sangat merugikan sebagian pihak dimana masyarakat sebagai korbannya.
Akhir-akhir ini, masyarakat petani mengalami keresahan karena “kelangkaan” air yang selama ini diyakini sebagai sumber kehidupan. Seperti di Jawa Tengah, lahan sawah banyak mengalami kekeringan karena kesulitan mendapatkan air, yang disebabkan sistem pengelolaan sumber-sumber air yang tidak merakyat.
Kemudian, dalam kepahitan hidup yang tengah dirasakan masyarakat saat ini, di sector air PAM sebagai lembaga pengelola air bersih juga diwarnai adanya privatisasi dengan business oriented, profit oriented sebagai landasan pengelolaannya. Adanya pencemaran air akibat pembuangan limbah pabrik, turut meresahkan masyarakat.
masalah air merupakan masalah yang menyangkut hajat hidup masyarakat, bangsa dan negara. Pengelolaan dan pengembangan sumber air yang berwawasan kebangsaan, sangat mempengaruhi masa depan bangsa. Bayangkan jika petani tidak mendapatkan air untuk kebutuhan pengairan, mereka akan gagal panen, kesejahterannya terancam dan bayangan hari esok yang lebih baik berganti penderitaan yang mendalam, atau air bersih untuk dikonsumsi, tubuh akan lemah bahkan jatuh sakit karena kekurangan cairan untuk proses pembakaran dalam tubuh. Maka aktifitas, kreatifitas akan berhenti sampai disitu. maka, perlu mereformasi manajemen pengelolaan sumber-sumber air yang didasarkan atas semangat demokrasi, demi tercapainya pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya.
Antisipasi Penggunaan Air Secara Berlebihan
Oleh : Mohammad Erfan
Ciputat, Tangerang.
Manfaat air tidak lain sebagai pendukung sarana kehidupan perlu diperhatikan dalam penggunaannya. Keberadaannya sebagai karunia Tuhan seharusnya disyukuri dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Rasa syukur itu tidak hanya berbentuk ucapan yang keluar dari mulut kita, tapi juga melalui serangkaian tindakan atau sikap arif dan bijak dalam menggunakan air, sesuai dengan standar kebutuhannya.
Seperti kita ketahui bahwa air merupakan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Pemanfaatan secara efektif dan efisien sangat penting dalam rangka mengantisipasi terjadinya penggunaan air secara berlebihan.
Demikian pula, tindakan atau sikap berlebih-lebihan itu sangat dilarang oleh agama karena termasuk dalam ketegori “isyraf”. Apalagi dalam masalah air yang sudah barang tentu menyangkut hajat hidup manusia, lingkungan secara umum. maka, perlu ada sarana pembinaan bagi masyarakat terhadap pemakaian air yang baik dan benar.
Ciputat, Tangerang.
Manfaat air tidak lain sebagai pendukung sarana kehidupan perlu diperhatikan dalam penggunaannya. Keberadaannya sebagai karunia Tuhan seharusnya disyukuri dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Rasa syukur itu tidak hanya berbentuk ucapan yang keluar dari mulut kita, tapi juga melalui serangkaian tindakan atau sikap arif dan bijak dalam menggunakan air, sesuai dengan standar kebutuhannya.
Seperti kita ketahui bahwa air merupakan sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui. Pemanfaatan secara efektif dan efisien sangat penting dalam rangka mengantisipasi terjadinya penggunaan air secara berlebihan.
Demikian pula, tindakan atau sikap berlebih-lebihan itu sangat dilarang oleh agama karena termasuk dalam ketegori “isyraf”. Apalagi dalam masalah air yang sudah barang tentu menyangkut hajat hidup manusia, lingkungan secara umum. maka, perlu ada sarana pembinaan bagi masyarakat terhadap pemakaian air yang baik dan benar.
Peran Air, Refleksi atau Wacana?
Oleh : Cici Wardini
Tanah Sereal, Bogor
Air. Tiga huruf yang meski kelihatan sepele membawa dampak yang sangat besar baik bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Bayangkan jika dalam keadaan normal atau paling tidak dalam waktu tiga jam kita tidak meneguk air minum. Tidak pernah ada dalam sebuah demonstrasi terdapat sebuah aksi mogok minum. Jika boleh dikatakan renungkanlah bahwa saat ini air bukan lagi sebagai komoditi sumber daya alam yang dapat dengan mudah untuk kita dapatkan. Kelangkaan air telah melanda masyarakat baik di kota besar dan kecil serta pencemaran air merebak akibat industrialisasi.
Mengapa air kemudian menjadi hal yang langka saat ini? Perlukah dirombak pelajaran SD kita yang mengatakan bahwa air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui? Lalu pertanyaannya sekarang adalah sampai sejauh mana kepedulian kita terhadap keberadaan air?
Dan bencana yang marak terjadi belakangan jika bukan karena kelalaian kita tentu paling tidak kita dapat meminimalisir bencana tersebut. Sebut saja kelalaian itu terhadap kurangnya kedisiplinan untuk tidak membuang sampah sembarangan, pembalakkan liar yang marak terjadi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyebabkan banjir yang melanda serta bencana longsor di beberapa daerah merupakan cerminan dari watak bangsa ini yang belum juga sadar akan makna air sesungguhnya. Dimana kemudian letak hukum berada?
Dilihat dari sudut kebijakan pemerintah, air yang semula ‘dinobatkan’ sebagai sumber daya bagi hajat hidup orang banyak yang mesti dilindungi oleh Undang-Undang kenyataannya saat ini tidak demikian. Swastanisasi air telah ditetapkan sehingga pihak swasta dapat bebas menguasai air. Air kemudian bukan menjadi komuniti publik yang semestinya mendapat perhatian serius oleh pemerintah. Apakah pemerintah lepas tangan atas semua yang seharusnya menjadi kewajibannya dalam menjalankan tugas? Masalah angkat tangan telah terbukti dengan adanya RUU BHP tentang pendidikan dimana pemerintah telah mengotonomikan pendidikan tersebut. Kembali pada konteks air, Lalu dimana keberadaan masyarakat terutama masyarakat awam dilihat dari sudut peran dalam dalam haknya?
Masalah air menjadi tanggung jawab kita semua sebagai warga negara Indonesia yang baik. Adalah hal mudah jika kita memulai sesuatu dengan hal yang kecil dahulu. Sampah yang menumpuk di sekitar batas bendungan ketika banjir melanda di Jakarta serta tumpukkan sampah yang ada di Bandung merupakan peringatan mimpi buruk agar kita mesti sesegera mungkin untuk mendisiplinkan diri. Agaknya peran yang komprehensif dan berkesinambungan perlu segera dilakukan oleh seluruh elemen baik itu pemerintah, swasta serta rakyat. Pemerintah harus memperhatikan segala aspirasi masyarakat di setiap pembuatan kebijakannya. Pengembangan masyarakat kemudian jangan hanya dijadikan wacana belaka ketika kemudian program secara bottom up menjadi perlu dilakukan.
Belum terlambat untuk memperbaiki segalanya menjadi lebih baik. Kita bisa menyuarakan aspirasi kepedulian kita dengan menjalin kerja sama yang baik dengan membangun sebuah organisasi yang peduli akan keberadaan serta peran air. Menyadarkan kekhilafan masyarakat selama ini dalam penggunaan air yang tentu harus didasari oleh filosofi yang benar atas dasar kepentingan umum. Ya, belum terlambat, jika kita memang benar-benar berniat untuk memperbaiki semuanya, moment untuk keberlanjutan air untuk masa depan telah kita genggam. Semoga!
16161
Tanah Sereal, Bogor
Air. Tiga huruf yang meski kelihatan sepele membawa dampak yang sangat besar baik bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Bayangkan jika dalam keadaan normal atau paling tidak dalam waktu tiga jam kita tidak meneguk air minum. Tidak pernah ada dalam sebuah demonstrasi terdapat sebuah aksi mogok minum. Jika boleh dikatakan renungkanlah bahwa saat ini air bukan lagi sebagai komoditi sumber daya alam yang dapat dengan mudah untuk kita dapatkan. Kelangkaan air telah melanda masyarakat baik di kota besar dan kecil serta pencemaran air merebak akibat industrialisasi.
Mengapa air kemudian menjadi hal yang langka saat ini? Perlukah dirombak pelajaran SD kita yang mengatakan bahwa air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui? Lalu pertanyaannya sekarang adalah sampai sejauh mana kepedulian kita terhadap keberadaan air?
Dan bencana yang marak terjadi belakangan jika bukan karena kelalaian kita tentu paling tidak kita dapat meminimalisir bencana tersebut. Sebut saja kelalaian itu terhadap kurangnya kedisiplinan untuk tidak membuang sampah sembarangan, pembalakkan liar yang marak terjadi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyebabkan banjir yang melanda serta bencana longsor di beberapa daerah merupakan cerminan dari watak bangsa ini yang belum juga sadar akan makna air sesungguhnya. Dimana kemudian letak hukum berada?
Dilihat dari sudut kebijakan pemerintah, air yang semula ‘dinobatkan’ sebagai sumber daya bagi hajat hidup orang banyak yang mesti dilindungi oleh Undang-Undang kenyataannya saat ini tidak demikian. Swastanisasi air telah ditetapkan sehingga pihak swasta dapat bebas menguasai air. Air kemudian bukan menjadi komuniti publik yang semestinya mendapat perhatian serius oleh pemerintah. Apakah pemerintah lepas tangan atas semua yang seharusnya menjadi kewajibannya dalam menjalankan tugas? Masalah angkat tangan telah terbukti dengan adanya RUU BHP tentang pendidikan dimana pemerintah telah mengotonomikan pendidikan tersebut. Kembali pada konteks air, Lalu dimana keberadaan masyarakat terutama masyarakat awam dilihat dari sudut peran dalam dalam haknya?
Masalah air menjadi tanggung jawab kita semua sebagai warga negara Indonesia yang baik. Adalah hal mudah jika kita memulai sesuatu dengan hal yang kecil dahulu. Sampah yang menumpuk di sekitar batas bendungan ketika banjir melanda di Jakarta serta tumpukkan sampah yang ada di Bandung merupakan peringatan mimpi buruk agar kita mesti sesegera mungkin untuk mendisiplinkan diri. Agaknya peran yang komprehensif dan berkesinambungan perlu segera dilakukan oleh seluruh elemen baik itu pemerintah, swasta serta rakyat. Pemerintah harus memperhatikan segala aspirasi masyarakat di setiap pembuatan kebijakannya. Pengembangan masyarakat kemudian jangan hanya dijadikan wacana belaka ketika kemudian program secara bottom up menjadi perlu dilakukan.
Belum terlambat untuk memperbaiki segalanya menjadi lebih baik. Kita bisa menyuarakan aspirasi kepedulian kita dengan menjalin kerja sama yang baik dengan membangun sebuah organisasi yang peduli akan keberadaan serta peran air. Menyadarkan kekhilafan masyarakat selama ini dalam penggunaan air yang tentu harus didasari oleh filosofi yang benar atas dasar kepentingan umum. Ya, belum terlambat, jika kita memang benar-benar berniat untuk memperbaiki semuanya, moment untuk keberlanjutan air untuk masa depan telah kita genggam. Semoga!
16161
Air Tidk Butuh Uang
Oleh: Alfina Rahil Ashidiqi
Ciputat, Tangerang
Akankah manusia dapat bersikap sombong dan tidak membutuhkan adanya air? Dengan berkata lantang "kami, manusia tidak lagi membutuhkan air, karena teknologi kami sudah dapat menemukan penggantinya''. Jawabannya sangat mustahil dan nihil! Sampai akhir zaman pun tak akan ada manusia satupun dibelahan bumi ini akan berani mangatakan seperti itu. Hanya orang-orang bodoh sajalah yang akan berani jauh dari air.
Dari hal itu, lahir pertanyaan apakah manusia yang tergantung pada air bersahabat dengan air? Sebelum menjawab, marilah kita tengok bagaimana sebagian fakta di lapangan contohnya di daerah Jakarta tentang kondisi air itu sendiri. Ternyata menurut Budirama Natakusumah, selaku Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta menyatakan di sebuah media masa bahwa hampir seluruh sumber air di Jakarta sudah tercemar bakteri yang berasal dari sampah organik dan kotoran manusia. Dengan keadaan air yang memprihatinkan, sebagai manusia yang tergantung kepada air.
Bahkan menganggapnya salah satu sumber kehidupan. Dan tanpanya makhluk hidup akan mati. Namun apa balasan manusia sebagai konsumer terbesar air diantara makhluk hidup yang lain atas besarnya jasa air? Apakah manusia menjaganya dan memahaminya? Faktanya tidak! Malah sebaliknya kedzaliman yang ia terima. Sungguh kejam dan bodohnya manusia! Betapa tidak, manusia tahu bahwa semua makhluk memerlukan air, tetapi kenapa berbalik mengusiknya. Aneh memang! Bukankah itu sama saja manusia membunuh dirinya sendiri
Untuk mengambil solusi pintas, munculah suatu pertanyaan. Manusia mana yang kejam, bodoh dan bersalah itu? Namun pertanyaan diatas lumpuh atas bijaknya pernyataan. Daripada kita pusing-pusing mencari oknum tersebut. Lebih pentingnya kita menatap masa sekarang dan yang akan datang namun tidak pula melupakan peristiwa yang lama begitu saja tanpa ada tindakan. Hanya saja, peristiwa yang lalu itu dijadikan pelajaran. Karena kasus air bukan merupakan kasus perorangan yang cepat selesai dengan putusan hakim. Tetapi lebih dititikberatkan kepada persoalan seluruh masyarakat dan bangsa atas kesadaran pentingnya air. Untuk itu tidak akan berhasil jika hanya segelintir orang yang sadar akan air sebagai sumber kehidupan seluruh makhluk. Dan memperbaiki lingkungan kehidupan alam yang mulai rusak ini.
Lalu bagaimana solusi agar penyebaran pencemaran air dapat ditanggulangi?. Sebenarnya solusi itu sangat klasik, sepele dan sudah sejak dahulu digaungkan oleh para pakar lingkungan. Yaitu kesadaran masyarakat membuang sampah di tempatnya, tidak merampas tempat drainase dan melindungi lingkungan alam sekitar ini. Dari hal yang sangat sepele dan kecil itulah berakibat besar bagi kelangsungan hidup manusia dan juga makhluk yang lain. Seperti tercemarnya air, tersumbatnya air yang menyebabkan baniir yang terjadi pada awal bulan februari lalu di Jakarta dan akhir-akhir ini melanda berbagai daerah di negara ini.
Untuk itu pada peringatan hari air sedunia tahun 2007 ini. Sebagai manusia yang mengaku bersahabat dengan air, aplikasikanlah kesadaran pada diri sendiri begitu urgennya keberadaan air dengan pencegahan pencemaran air.
Hikmahnya bukan hanya untuk pribadi manusia itu sendiri, tetapi juga untuk masyarakat, bangsa dan kehidupan alam di masa mendatang. Air hanya minta untuk dipahami dan dihargai keberadaannya. Sungguh tak lebih dari itu, apalagi imbalan jasa seperti uang. Tak butuh ! Sulitkah melakukan itu.?
Ciputat, Tangerang
Akankah manusia dapat bersikap sombong dan tidak membutuhkan adanya air? Dengan berkata lantang "kami, manusia tidak lagi membutuhkan air, karena teknologi kami sudah dapat menemukan penggantinya''. Jawabannya sangat mustahil dan nihil! Sampai akhir zaman pun tak akan ada manusia satupun dibelahan bumi ini akan berani mangatakan seperti itu. Hanya orang-orang bodoh sajalah yang akan berani jauh dari air.
Dari hal itu, lahir pertanyaan apakah manusia yang tergantung pada air bersahabat dengan air? Sebelum menjawab, marilah kita tengok bagaimana sebagian fakta di lapangan contohnya di daerah Jakarta tentang kondisi air itu sendiri. Ternyata menurut Budirama Natakusumah, selaku Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta menyatakan di sebuah media masa bahwa hampir seluruh sumber air di Jakarta sudah tercemar bakteri yang berasal dari sampah organik dan kotoran manusia. Dengan keadaan air yang memprihatinkan, sebagai manusia yang tergantung kepada air.
Bahkan menganggapnya salah satu sumber kehidupan. Dan tanpanya makhluk hidup akan mati. Namun apa balasan manusia sebagai konsumer terbesar air diantara makhluk hidup yang lain atas besarnya jasa air? Apakah manusia menjaganya dan memahaminya? Faktanya tidak! Malah sebaliknya kedzaliman yang ia terima. Sungguh kejam dan bodohnya manusia! Betapa tidak, manusia tahu bahwa semua makhluk memerlukan air, tetapi kenapa berbalik mengusiknya. Aneh memang! Bukankah itu sama saja manusia membunuh dirinya sendiri
Untuk mengambil solusi pintas, munculah suatu pertanyaan. Manusia mana yang kejam, bodoh dan bersalah itu? Namun pertanyaan diatas lumpuh atas bijaknya pernyataan. Daripada kita pusing-pusing mencari oknum tersebut. Lebih pentingnya kita menatap masa sekarang dan yang akan datang namun tidak pula melupakan peristiwa yang lama begitu saja tanpa ada tindakan. Hanya saja, peristiwa yang lalu itu dijadikan pelajaran. Karena kasus air bukan merupakan kasus perorangan yang cepat selesai dengan putusan hakim. Tetapi lebih dititikberatkan kepada persoalan seluruh masyarakat dan bangsa atas kesadaran pentingnya air. Untuk itu tidak akan berhasil jika hanya segelintir orang yang sadar akan air sebagai sumber kehidupan seluruh makhluk. Dan memperbaiki lingkungan kehidupan alam yang mulai rusak ini.
Lalu bagaimana solusi agar penyebaran pencemaran air dapat ditanggulangi?. Sebenarnya solusi itu sangat klasik, sepele dan sudah sejak dahulu digaungkan oleh para pakar lingkungan. Yaitu kesadaran masyarakat membuang sampah di tempatnya, tidak merampas tempat drainase dan melindungi lingkungan alam sekitar ini. Dari hal yang sangat sepele dan kecil itulah berakibat besar bagi kelangsungan hidup manusia dan juga makhluk yang lain. Seperti tercemarnya air, tersumbatnya air yang menyebabkan baniir yang terjadi pada awal bulan februari lalu di Jakarta dan akhir-akhir ini melanda berbagai daerah di negara ini.
Untuk itu pada peringatan hari air sedunia tahun 2007 ini. Sebagai manusia yang mengaku bersahabat dengan air, aplikasikanlah kesadaran pada diri sendiri begitu urgennya keberadaan air dengan pencegahan pencemaran air.
Hikmahnya bukan hanya untuk pribadi manusia itu sendiri, tetapi juga untuk masyarakat, bangsa dan kehidupan alam di masa mendatang. Air hanya minta untuk dipahami dan dihargai keberadaannya. Sungguh tak lebih dari itu, apalagi imbalan jasa seperti uang. Tak butuh ! Sulitkah melakukan itu.?
Subscribe to:
Posts (Atom)
